Rabu, 27 April 2011

Pukul 10.00. Restoran sudah sepi dan waktunya tutup. Cuma rusman dan Hamid yang duduk berhadapan dengan pakaian yan tidak terurus. Mereka bekas pejuang gerilya.
Hamid : Ya, kalau kita terlalu mengikat diri kepada segala apa yang pernah kita cita-citakan dulu, dan kini melihat segala-galanya meleset semata-mata, maka dengan sendirinya kita kecewa belaka. Apalagi kalau kita melihat keadaan di kalangan politik kita dewasa ini, dan bagaimana kotornya cara-cara para pemimpi kita berebutan pengaruh dan kekuasaan. Maka bagi kita sebagai bekas pejuang yang kini masih menganggur.......
Rusman : Tapi politik memang kotor.
Hamid : Itu sama sekali tidak benar. Politik tidak kotor. Tidak seharusnya kotor. Malah sebaliknya, politik adalah satu hal yang murni. Sloganmu kini terlalu mudah diucapkan orang seolah suatu kebenaran yang mutlak. Padahal......
Rusman : [tertawa]

Klik disini untuk download.
Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-

1.A. : Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.B : Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

Klik disini untuk download.
LAMPU MENYALA.
DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Sudah tiga hari
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.
Pak Lena
(Tetap memandang tv) Anak kita
Bu Lena
Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari.

Klik disini untuk download
MALAM PEKAT HUJAN MENDERAS. PETIR SESEKALI MENGHENTAK. KILATAN CAHAYANYA MELESAT DI LUAR JENDELA. ANGIN MENGIBAS DAUN-DAUN, BERGESEKAN DAN JATUH. POKON-POHON GELISAH. SUARANYA MENDESAH.

MALAM TERASA GUNDAH

DALAM RUMAH SEBUAH RUANGAN SEDERHANA, SEPERTI MENGGIGIL OLEH DINGIN ANGIN. MALAM MENGAMBANG . MALAM YANG BERBISIK DENGAN MUSIM. MUSIM YANG BERSIKAP SEPERTI HAKIM. MENGHAKIMI SEPASANG MANUSIA.

DALAM RUANGAN HANYA ADA GELAP SEPI.

TIBA-TIBA PEREMPUAN MEMANTIKKAN KOREK API. MENYALA. SEBATANG LILIN DALAM RUANGAN YANG GULITA. MENYALA. HANYA SEBATANG LILIN.

SERAUT WAJAH TAMPAK. WAJAH SEORANG PEREMPUAN MURUNG, DUDUK MENGHADAP MEJA.

CAHAYA LILIN MEMBENTUK BAYANG-BAYANG. GURATAN GARIS-GARIS DARI LEKUK RUANGAN TAMPAK SEPERTI SILANGAN SKETSA-SKETSA LUKISAN YANG BELUM JADI. RUANGAN SEDERHANA DENGAN BAYANG-BAYANG SEDERHANA.

PEREMPUAN ITU, SEPERTI JUGA MALAM, TAMPAK RESAH. IA TAK SEPATAH PUN BICARA, TAPI IA TAK DIAM.

SEBUAH BUKU TEBAL, PERLAHAN DIBUKA LEMBAR DEMI LEMBAR. SUARA GESEKAN KERTAS, MENAMBAH TAJAMNYA SEPI. MULUT PEREMPUAN ITU BERKOMAT-KAMIT.
SEBATANG ROKOK, DINYALAKAN. ASAPNYA MENGELILINGI RUANGAN. TANGANNYA TERUS SAJA MEMBOLAK-BALIK BUKU, TERKADANG MENULIS, TERKADANG MENYANDAR DI KURSINYA, TERKADANG MENGHEMBUSKAN NAFAS PANJANG. DAN ROKOK TERUS MENYALA DI BIBIRNYA.

PEREMPUAN SEPERTI MULAI JENUH. BUKU DITUTUP DENGAN HENTAKAN KERAS.
SEBUAH SUARA TERBANGUN DARI RUANG YANG LAIN.

1. Lelaki : Lampu padam lagi?

Klik disiniuntuk download
Latar belakang
Ruang tidur yang sesak dan berantakan di lantai atas sebuah perumahan di belakang timur kota New York.Wall paper yang kotor dan terkupas dibeberapa bagian menampakkan plesteran dibawahnya. Tampak sebuah jendela yang terbuka, yang dibelakangnya terdapat tangga darurat dan botol kosong bekas susu. Disebelah kanan terdapat pintu keluar menuju koridor. Wastafel terletak disebelah kiri ruangan dengan mangkuk, serta beberapa perlengkapan tergeletak begitu saja diatasnya. Pada dinding sebelah atas sebuah cermin yang tergantung pada sebuah paku yang menonjol keluar. Di tengah ruangan berdiri meja reot dan sebuah kursi. Disudut kiri dekat jendela terdapat ranjang dan seorang anak balita yang tertidur dengan pulas. Sebuah lampu teplok gas didekat cermin merupakan satu-satunya alat penerangan di ruangan itu.

Klikdisni untuk download
( DONNA LAURA MASUK, BERPEGANGAN TANGAN PADA PETRA. TANGANNYA YAN LAIN MEMBAWA PAYUNG YANG JUGA UNTUK TONGKATNYA )

LAURA : Aku selalu merasa gembira sekali di sini. Syukur bangkuku tidak ditempati orang lain. Duhai, pagi yang cerah! Cerah sekali.

PETRA : Tapi matahari agak panas, Senora.

LAURA : Ya, kau masih duapuluh tahun (IA DUDUK DI BANGKU BELAKANG). Aku merasa lebih letih dari biasanya (MELIHAT PETRA YANG NAMPAK TAK SABAR), pergilah kalau kau ingin ngobrol dengan tukang kebunmu itu!

PETRA : Dia bukan tukang kebunku, Senora, dia tukang kebun taman ini!

Klik disini untuk download
( RUANG TAMU DI RUMAH RADEN RUKMANA KHOLIL)

RUKMANA : Eee ... ada orang rupanya. O ... Agus Tubagus, aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar dugaanku. Apa kabar? Baik ... ??
(MEREKA BERSALAMAN).

AGUS : Baik, baik, terima kasih, bagaimana dengan Bapak?

RUKMANA : Baik, baik. Terima kasih atas doamu, dan seterusnya ... duduklah. Memang tidak baik melupakan tetanggamu, Agus. Ooo, tetapi kenapa kau pakai pakaian resmi-resmian? Jas, sapu tangan dan seterusnya ... ... Kau hendak pergi kemana?

AGUS : Oh, tidak Aku hanya akan mengunjungi Pak Rukmana Kholil yang baik.

RUKMANA : Lalu mengapa pakai jas segala, seperti pada hari lebaran saja.

Klik disini untuk download.
( WAKTU LAYAR DIBUKA PANGGUNG GELAP DAN SUNYI, KEMUDIAN TERDENGAR SUARA)

………………… Wahai, Wahai……………….. Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu bergandengan, dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahai, wahai dengarlah !
Aku memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusingan.
Wahai, wahai !
Di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencanaa untuk menyambut engkau berdua. Kereta kencana, 10 kuda 1 warna.

(EMPAT KETUKAN, SETELAH ITU NENEK MASUK DENGAN LILIN MENYALA. DUHAI GUGUPNYA)

NENEK : Henry, engkaukah itu ?
Henry….. ah…. dari mana engkau sayang ?

Klik disini untuk download.
ADEGAN I
Waktu dlayar dibuka, tampak Iyem sedang mengganti taplak meja dan membersihkan kursi-kursi tamu. Nyonya hamidah Mansyur masuk ke dalam ruangan dengan dandanan yang sangat menyolok, ada kesan dari dirinya menyombongkan kekayaannya. Dia menghias diri seperti toko yang berjalan.
Ny. Hamidah : Laki-laki kerjanya tak lain hanya melanggar janji. Katanya mau datang jam 8, sekarang sudah jam 8.30 belum juga datang ( menjenguk keluar jendela, tiba-tiba terlihat tampak pembentu yang sedang membersihkan kursi) Eeeee, sudah siang begini kamu baru bersih-bersih? Pelayan macam apa kau ini?
Iyem : (tergagap) Apa Nyonya sudah lupa, pagi tadi Nyonya telahmenyuruh saya ke rumah janda itu. Bagaimana saya bisa membersihkan rumah ini pagi-pagi.

Klik disini untuk download

Selasa, 26 April 2011

Setting
Malam purnama di sebuah pemakaman yang terkenal angker. Arga yang baru saja keluar dari penjara sedang mengupas masalalunya di tempat itu. Enambelas tahun silam, Lilin kekasihnya mati tertusuk belati Gaguk. Arga masih ingat betul kejadian malam itu.

[Gaguk dan Lilin jalan bergandengan]
Arga : Hei berhenti kalian!
Lilin : Mas Arga?!
Arga : Bangsat kamu Gaguk! [Arga dan Gaguk Berkelahi, Lilin tertusuk belati Gaguk, lantas Gaguk lari]
Arga : Enambelas tahun, seratus sembilanpuluh dua kali sudah aku tak menikmati purnama di sini. Iya di tempat yang sangat indah ini. Nampaknya tak banyak berubah, masih seperti yang dulu. [Sembari menyulut sebatang rokok] Aku masih ingat betul pohon itu, sehabis pulang berkencan, banyak pemuda, bapak-bapak, bahkan anak sekolahan yang kencing di sana. Aromanya masih seperti yang dulu, tak berubah. Aku heran, mereka begitu berani, padahal tempat ini tersohor angker. Bau pesing sering lebur dengan aroma melati atau kenanga. Dan bau amis darah malam itu pun masih aku cium malam ini. Lilin, pada malam itu....... ah, aku tak lagi tahu bagaimana dia. Yang aku tahu Lilin mati bukan ditanganku, hanya saja hukum tak berpihak padaku hingga aku berada di tempat yang pengap. Tempat orang bersalah. Dan bagaiermana pula keluarga ku sekarang, Lina yang bisu.... seperti apakah dia sekarang. Pastinya dia menjadi dewasa dan gemar sekali berdandan, sama seperti calon kakak iparnya yang senang sekali berkaca.
Llin : [Datang dari belakang] Sendirian Mas? Sedang menunggu seseorang ya?

Klik disini untuk download lebih lengkap








Senin, 25 April 2011


Sekaran. Selama 3 hari 2 malam, Teater SS menggelar Pentas Tripurnama di Joglo Fakultas Ekonomi Universitas negeri semarang. Acara yang berlangsung pada tanggal 22 April hingga 24 April 2011 ini dimeriahkan dengan beberapa pementasan teater. Selain itu, menurut ketua Teater SS 2011, Reanes putra, acara ini juga sebagai moment berkumpulnya para alumni IKIP Semarang atau unnes yang dahulunya aktif berteater diteater SS(karena memang tidak ada alumni atau mantan anggota teater SS). Pada malam pertama, dipentaskan monolog berjudul "KASIR KITA" oleh Abdi munif, ketua teater SS tahun 1995. Kemudian pementasan "KEBAHAGIAAN ABADI" karya Sobamie oleh teater SS angkatan 2009/2010. Naskah adaptasi dari kumpulan cerpen "BOM" ini sebelumnya pernah dipentaskan juga pada peluncuran buku kumpulan cerpen "BOM" karya Jimat Kalimasada. Dan juga beberapa pembacaan puisi dari Ary (teater SS angkatan 1999) dan dari teater BUIH fakultas ekonomi UNDIP.
Keesokan harinya,diadakan workshop kecil oleh para alumni. Sebagai bentuk transfer ilmu dari senior dan junior.
Pada malam kedua, pementasan lebih meriah. Hingga joglo tak mampu menampung. Para alumni seperti Alex Poerwo, Atin, Rhobi Shani, Desita Lia, Dika, Lussy, Sendang Mulyana, Achar M. Permana, Hargyningtyas, Ratih, dan masih banyak lagi pun turut hadir. Dimalam ini terdapat pementasan. Diawali pembacaan puisi dari Kang Ari, pementasan teater "MATA SUNYI" oleh Rhobi Shani dan Desita LIa, performance Art "EMAK" yang dipadukan dengan karate,performance oleh mbak suprek, dan mbak Atin, serta pembacaan puisi dari teater buih. Kegiatan Pentas Tripurnama itupun diakhiri dengan diskusi antar angkatan pada pagi harinya, untuk berbagi demi perkembangan teater SS kedepannya. Dan happening art, kolaborasi dari semua angkatan.
Klik disini untuk melihat dokumentasi.