Minggu, 18 Juli 2010

Karya Agus Noor
Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…
Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.
Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.
Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…
Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,
TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…
Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.


Senin, 05 April 2010


31Maret 2010,malam yang cerah diterangi cahaya alam,bulatnya purnama malam itu,teater SS Universitas Negeri Semarang mengadakan pentas bulan purnama di komplek Joglo Fakultas Ekonomi .Kegiatan ini kemudian dimuat di Harian Suara Merdeka edisi03 April 2010.
Mimpi Papa-Mama di Kepala Anak

* Oleh Achiar M Permana

RIK tercenung. Permintaan, atau lebih tepatnya, perintah papa-mamanya seperti teror yang menusuki kepalanya. Bayangkan, kedua orang tuanya merecoki tidur malam Rik, dengan mimpi-mimpi mereka. Rik dipaksa untuk bermimpi seperti keinginan orang tuanya.

’’Kau harus bermimpi menjadi dokter, Rik. Sebab, dokter adalah pahlawan pada masa yang akan datang,’’ perintah sang papa.

’’Kau harus menjadi astronot. Astronotlah pahlawan yang sesungguhnya di masa depan,’’ tukas sang mama.

Begitulah, gambaran orang tua yang mendikte anak, bahkan hingga ke mimpi-mimpinya, dipanggungkan oleh Teater SS Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rabu (31/3) malam. Malam itu, lakon Mimpi-mimpi karya TB Kamaluddin tersebut dimainkan dua kali, di joglo kampus Sekaran, Gunungpati.
Lakon yang disutradarai Ratih Fajarwati itu dimainkan dalam rangkaian Pentas Bulan Purnama. Selain pementasan teater, perhelatan itu dimeriahkan pula dengan pembacaan puisi, musik, dan diskusi.

Di depan orang tuanya yang bersikeras memaksakan mimpi-mimpi mereka, Rik seperti menjadi boneka kaca yang tak berdaya. Rapuh dan gampang pecah. Seperti tak mau tahu, kedua orang tua itu terus saja meneror anaknya dengan mimpi mereka. ’’Tidak, Rik, kau harus bermimpi menjadi dokter, supaya bisa mengobati ketika ayahmu ini beranjak tua dan sakit-sakitan.’’
’’Tidak, Rik, tidak. Kau harus bermimpi menjadi astronot...’’
Ruang Permenungan Menonton kembali Mimpi-mimpi, bagi saya, seperti masuk dalam ruang permenungan. Kata kembali harus saya gunakan, mengingat sejak pertengahan 1990-an, entah sudah berapa kali lakon—yang dimainkan oleh kelompok teater berbeda—itu saya tonton. Sejak Teater 70 dari SMA 70 Jakarta memainkannya di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), pada 1996, lakon sarat pesan itu acapkali digarap oleh pelbagai kelompok teater di Semarang khususnya, dan Jawa Tengah umumnya.

Hebatnya, hampir satu setengah dekade berlalu, muatan di Mimpi-mimpi tetap saja terasa aktual. Setidaknya, lakon itu menjadi pengingat, betapa hingga kini masih banyak orang tua yang menjadi pendikte bagi kehidupan anak-anaknya.
Dan itu, membuat saya mengikhlaskan ’’kebocoran’’ yang bersifat teknis-teater, seperti akting yang flat, irama yang tak terjaga, atau setting, properti, ilustrasi, tata cahaya, dan ilustrasi musik yang nyaris tak tergarap.

Malam itu, persis pada malam Dies Natalis Ke-45 Unnes, para pegiat Teater SS yang sebagian di antaranya calon guru seperti tengah melakukan autokritik. Bahwa, mereka memiliki tanggung jawab untuk mengikis keberadaan para ’’teroris’’ berwajah papa-mama.

Selasa, 19 Januari 2010

Berdiri sekitar tahun 1970-an.Pada awalnya merupakan organisasi seni yang didirikan oleh mahasiswa fakultas Keguruan Sastra dan Seni IKIP Semarang(kini Universitas Negeri Semarang/UNNES).Resmi menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ditujukan untuk menampung bakat dan minat mahasiswa dalam bidang seni pada tahun 1980.Dengan semboyan,"dalam lingkaran aku ada dan tiada" teater SS siap menorehkan warna tersendiri dalam dunia perteateran..