Tampilkan postingan dengan label download. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label download. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2015

Berikut ini adalah kumpulan puisi karya sahabat baru teater SS pada saat LaPer 2015 di area kampus UNNES.

Minggu, 13 Juli 2014

Sebuah Naskah Monolog
Karya : Arifin C Noer



Setting :
Ruang tengah dari sebuah ruang yang cukup menyenangkan, buat suatu keluarga yang tidak begitu rakus. Lumayan keadaannya, sebab lumayan pula penghasilan si pemiliknya. Sebagai seorang kasir di sebuah kantor dagang yang lumayan pula besarnya. Kasir kita itu bernama : Misbach Jazuli
Sandiwara ini ditulis khusus untuk latihan bermain. Sebab itu sangat sederhana sekali. Dan sangat kecil sekali. Dan sandiwara ini kita mulai pada suatu pagi. Mestinya pada suatu pagi itu ia sudah duduk dekat kasregisternya di kantornya, tapi pagi itu ia masih berada di ruang tengahnya, kelihatan lesu seperti wajahnya.
Tas sudah dijinjingnya dan ia sudah melangkah hendak pergi. Tapi urung lagi untuk yang kesekian kalinya. Dia bersiul sumbang untuk mengatasi kegelisahannya. Tapi tak berhasil.

Saudara-saudara yang terhormat. Sungguh sayang sekali, sandiwara yang saya mainkan ini sangat lemah sekali. Pengarangnya menerangkan bahwa kelemahannya, maksud saya kelemahan cerita ini disebabkan ia sendiri belum pernah mengalaminya; ini. Ya, betapa tidak saudara? Sangat susah.

Diletakkannya tasnya
Saya sangat susah sekali sebab istri saya sangat cantik sekali. Kecantikannya itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara. Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik. Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri tidak percaya bahwa dia itu istri saya.

Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu pandang pertama kalinya disuatu pesta berkata saya dalam hati : maulah saya meyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan selamanya sulit diterka. Sedikit banyak rupanya suka akan surpraise.

Buktinya? Meskipun telinga saya masih utuh, toh saya telah berumah tangga dengan Supraba selama lima tahun lebih.
Aduh cantiknya.
Saya berani mempertaruhkan kepala saya bahwa bidadari itu akan tetap bidadari walaupun ia telah melahirkan anak saya yang nomer dua, saya hampir tidak percaya pada apa yang saya lihat. Tubuh yang terbaring itu masih sedemikian utuhnya. Caaaaannnnttiiik.
Ah kata cantikpun tak dapat pula untuk menyebutkan keajaibannya. Cobalah. Seandainya suatu ketika gadis-gadis sekolah berkumpul dan istri saya berada diantara mereka, saya yakin, saudara-saudara pasti memilih istri saya, biarpun saudara tahu bahwa dia seorang janda.

Lesu.
Ya, saudara. Kami telah bercerai dua bulan lalu. Inilah kebodohan sejati dari seorang lelaki. Kalau saja amarah itu tak datang dalam kepala, tak mungkin saya akan sebodoh itu menceraikan perempuan ajaib itu.

Semua orang yang waras akan menyesali perbuatan saya, kecuali para koruptor, sebab mereka tak mampu lagi menyaksikan harmoni dalam hidup ini.
Padahal harmoni adalah keindahan itu sendiri. Dan istri saya, harmonis dalam segala hal. Sempurna.Menarik napas.
Bau parfumnya! Baunya! Seribu bunga sedap malam di kala malam, seribu melati di suatu pagi. Segar, segar!
Telepon berdering.
Itu dia! Sebentar (ragu-ragu)
Selama seminggu ini setiap pagi ia selalu menelpon. Selalu ditanyakannya :”Sarapan apa kau, mas” Kemarin saya menjawab :”Nasi putih dengan goreng otak sapi”
Pagi ini saya akan menjawab .....

Mengangkat gagang telepon
Misbach Jazuli disini. Hallo? Hallo! Halloooo!
Meletakkan pesawat telepon
Salah sambung.
Gilaa! Saya marah sekali. Penelpon itu tak tahu perasaan sama sekali.
Tiba-tiba
Oh ya! Jam berapa sekarang?


Sabtu, 05 Juli 2014

oleh: Griri Ratomo

Sebuah naskah untuk berlatih monolog. Setting sunggung dibuat tidak ribet, sangat sederhana.

Panggung masih kosong melompong. Sekilas samar-samar terlihat tiang yang tegak menjulang, tak terlalu tinggi. Perlahan lahan areal panggung yang tadinya gelap mulai meremang setelah lampu yang terletak tepat di atas tiang mulai menyala.

Entah dari sudut mana tiba-tiba muncul seseorang terhuyung-huyung hampir jatuh dengan barang bawaan yang berupa kotak yang cukup banyak. Pasti, orang tersebut berusaha keras mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Kotak-kotak tersebut diletakkan persis dibawah tiang.

Akhirnya nyampai juga. Gara-gara elu gua hampir jatuh keselokan tadi, kurang ajar! Dasar kagak tahu diuntung ! Capai-capai ngebopong bukannya dikasih upah malah mo dijatuhin ! Awas lu ntar kalo macem-macem lagi bakalan gua gebug , mampus !

(Orang itu sibuk menata kotak yang di bawanya persis di bawah tiang, kemudian di duduki)

Eh lu, untuk sementara ini lu diam aja ya! Kagak usah macem-macem, kagak boleh ribut ..aa..untuk sementara lu juga kagak boleh protes kalo sekarang gua ngerokok !

Nah kayak gitu, diaam. Kata orang diam itukan emas, nah, siapa tahu kalau lu bisa diam gua bisa dapet emas..eit, jangan protes nyuruh gua diam, sebab kalau gua yang diam lu kagak bakalan dapet emas.
(Menyalakan rokok)

Hah …hidup jaman sekarang emang serba susah, kalau mau di buat susah. Hidup juga serba gampang kalau kita gampangin.

Ya susah ya gampang, tinggal kitanya.
(mengusap-usap salah satu kotak) Kita. Lha..misalnya ya kaya Aku sama kamu ini, bi patner tugeder.
Seperti muka uang logam, sisi yang satu butuh sisi lain. Terus terang kalau aku buka-bukaan sampai detik ini aku masih butuh kamu

Ee…diem aja. Ngomong. Kamu itu kalau aku suruh diem, kamu nyerocos. Kalau aku suruh ngomong, kamu diem. Ngomong. Ayo. Ngga nyesel kalau kamu diem?

Ya sudah. Kalau kamu diem terus. Aku yang ngomong.

(Mengangkat kotak-kotak kayu, memindahkannya di salah satu pojok)

Meski orang bilang kata-kata adalah ular mematikan yang keluar dari lobang hitam dan lidah adalah pedang bermata dua yang siap menikam, tapi tak apa. Toh, saya sudah berada disini. Di ruangan ini sendirian. Sementara berpasang-pasang mata menatap tajam kearah saya dan bertanya-tanya. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang berbisik bisik seolah-olah saya asing dan aneh. Berbeda dengan mereka. Ah, kecurigaan macam apa ini? Kecurigaan yang membuat saya harus tertunduk layu ke batu. Tetapi, bukankah kekuasaan ratu Elizabeth yang besar pun dibangun karena rasa kecurigaan yang sedemikian kental? Dan bukankah kecurigaan pula yang telah membawa manusia untuk menjelajahi samudera raya dan melewati sekian tahun cahaya hanya untuk menggenapi sebuah pertanyaan : siapa?


Oleh: Dadi Pujiadi Reza
(KUBURAN. LAMPU SEMPRONG MENYALA DI BAWAH BALE)
SATRIO WELANG MUNCUL MEMAKAI SARUNG SAMBIL MEMBAWA BANTAL LUSUH.
Ketemu? Sudah? Lah, ditanya kok diam aja? Di sini mana mungkin ada? Ngapain pada kumpul-kumpul? Itu yang di pojok hati-hati kelewatan… kalau sudah nge… rasanya kayak naik sepur… ogah ber-he-he-he-nanti…
Sumi.. Sumi…
sipilissipilis rajasinga
ini kapsul kuat
tulang besi otot kawat
dijamin bersih
karena di sunat
lebih penting urat
daripada surat
semobil lewat
sesepur lewat
sekapal lewat…
Jangan tanya saya buat apa di sini… Siapa tak kenal Satrio Welang… nggak berani tanya khan? Mau gua stuut? Saya sudah keliling kemana-mana… nyari anu… Saya cari anu. Anu saya mana? Tempat itu memang harus digusur! Apa-apa di situ mahal. Malah bikin penyakitan lagi… tempat itu sudah sepantasnya digusur…
Lah? Saya lupa anu saya… di mana ya? Barangkali saya sudah terlalu banyak dosa. Halah! Apa tadi? Tentang tempat itu… ya, memang harus digusur… di sana juga ada musik loh… sudah dari kapan saya cari… awalnya saya baru sadar setelah saya datang ke situ… keseringan dikunjungi malah bikin hilang… absurd bukan? Nih, nih saya kasih tahu… ini rahasia…ah, nggak ah jadi mau malu… Ihh, malu ah!
Hah? Di situ? (PINDAH TEMPAT) di sini? Ke kiri lagi? Ke kiri lagi? (MELIHAT KE BAWAH. KECEWA) Iya, kemarin suara tangisnya kedengaran dari dalam sini… tapi saya ubek tetap nggak ada… sedikit ke kiri lagi? Anjrit! Udah, ah. Ngibul melulu luh! Ini bukan nisannya… pohon-pohonnya sudah sama tinggi… pohon beringin tempat saya nangis dulu udah ditebang buat perluasan ya?
LEWAT POCONGAN-POCONGAN BAYI. AWAN. IKAN-IKAN
Semua berawal dari observasi, setelah itu kenal Sumi, Sumi aborsi.
(MEMANGGIL) Kencur! Kencur! Umur 12 saya kenal mbok-mbok pedagang langkoas di pasar… terus lagi enak-enak tidur malah diketeki di dalam selimut sama Dwi, kakak si Slamet koreng…pernah dipantatin Udin tukang gorengan… dirayu Ani pembantu, Suka, Mamat, Luwek, Een,… wah banyak lagi deh… anjrit! Malah kecanduan! Rasanya badan pegel-pegel kalo nggak kena gituan… nggak mau nikah ah…mending pelihara burung… ikan… nangkepin cicak, cacing, kecoa… binatang pantasnya ngasih makan binatang…

Monolog : Mulut Revisi

Karya: PUTU WIJAYA

(DAPAT DIMAINKAN OLEH LELAKI ATAU PEREMPUAN)

SEORANG PENGAMEN DENGAN WAJAH YANG TANPA MULUT MEMBUAT BUNYI-BUNYIAN, MEMANGGIL PENONTON. KEMUDIAN IA MEMPERAGAKAN GERAKAN-GERAKKAN  YANG BISA MENARIK. SETELAH PENONTON SIAP, IA MEMBUKA TUTUP MULUTNYA DAN MULAI BICARA.

           Di desa kami ada seorang perempuan tidak punya mulut. Di bawah hidungnya kosong melompong tidak ada bibir. Tidak ada yang tahu apakah ia punya gigi dan lidah di balik wajahnya yang terkunci itu. Dalam keadaan yang tuna mulut itu ia membingungkan desa. Warga mempersoalkan kehadirannya tak habis‑habis. Apakah ia mahluk yang cantik atau mengerikan.
Kedua matanya membelalak seperti mata ikan koki, tetapi kerlingannya tajam seperti cakar harimau. Hidungnya bangir namun tidak kepanjangan seperti Petruk. Kulitnya lembut dan hangat. Wajah dan air mukanya bagi semua kami, baik laki maupun perempuan, sangat cantik. Kata tukang jual siomay, tanpa mulut, perempuan itu justru seperti bidadari. Siapa saja yang memandangnya dengan bebas dan rahasia dapat menempelkan dalam angan‑angannya jenis mulut yang dia sukai. Wajahnya itu  begitu luwes ‑‑ diberikan mulut apa pun cocok. Mulut dower, yang sempit, yang tebal, yang tipis, yang monyong, yang sedikit nyakil pun cocok. Asal amit-amit jangan sumbing saja.

            Tukang ojek yang biasa nonton film India dan gila dangdut sukanya bibir dower. Dia melihat di bawah hidung perempuan itu bergantung dua baris daging empuk, seperti dua ekor lintah yang sudah kenyang. Tebal, melimpah tapi penuh dan basah. Tukang kredit yang doyan bibir tipis, menempelkan dalam angan‑angannya kue lapis yang lembut, tipis tapi empuk, lincah, legi dan lengket. Pokoknya karena tak ada mulut, bibirnya malah bisa digonta‑ganti seenake dewe, mau bibir kowel-kowel model orang hutan atau bibir bekicot yang nyerep dan becek, terserah. 

Rabu, 27 April 2011

Pukul 10.00. Restoran sudah sepi dan waktunya tutup. Cuma rusman dan Hamid yang duduk berhadapan dengan pakaian yan tidak terurus. Mereka bekas pejuang gerilya.
Hamid : Ya, kalau kita terlalu mengikat diri kepada segala apa yang pernah kita cita-citakan dulu, dan kini melihat segala-galanya meleset semata-mata, maka dengan sendirinya kita kecewa belaka. Apalagi kalau kita melihat keadaan di kalangan politik kita dewasa ini, dan bagaimana kotornya cara-cara para pemimpi kita berebutan pengaruh dan kekuasaan. Maka bagi kita sebagai bekas pejuang yang kini masih menganggur.......
Rusman : Tapi politik memang kotor.
Hamid : Itu sama sekali tidak benar. Politik tidak kotor. Tidak seharusnya kotor. Malah sebaliknya, politik adalah satu hal yang murni. Sloganmu kini terlalu mudah diucapkan orang seolah suatu kebenaran yang mutlak. Padahal......
Rusman : [tertawa]

Klik disini untuk download.
Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-

1.A. : Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.B : Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

Klik disini untuk download.
LAMPU MENYALA.
DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Sudah tiga hari
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.
Pak Lena
(Tetap memandang tv) Anak kita
Bu Lena
Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari.

Klik disini untuk download
MALAM PEKAT HUJAN MENDERAS. PETIR SESEKALI MENGHENTAK. KILATAN CAHAYANYA MELESAT DI LUAR JENDELA. ANGIN MENGIBAS DAUN-DAUN, BERGESEKAN DAN JATUH. POKON-POHON GELISAH. SUARANYA MENDESAH.

MALAM TERASA GUNDAH

DALAM RUMAH SEBUAH RUANGAN SEDERHANA, SEPERTI MENGGIGIL OLEH DINGIN ANGIN. MALAM MENGAMBANG . MALAM YANG BERBISIK DENGAN MUSIM. MUSIM YANG BERSIKAP SEPERTI HAKIM. MENGHAKIMI SEPASANG MANUSIA.

DALAM RUANGAN HANYA ADA GELAP SEPI.

TIBA-TIBA PEREMPUAN MEMANTIKKAN KOREK API. MENYALA. SEBATANG LILIN DALAM RUANGAN YANG GULITA. MENYALA. HANYA SEBATANG LILIN.

SERAUT WAJAH TAMPAK. WAJAH SEORANG PEREMPUAN MURUNG, DUDUK MENGHADAP MEJA.

CAHAYA LILIN MEMBENTUK BAYANG-BAYANG. GURATAN GARIS-GARIS DARI LEKUK RUANGAN TAMPAK SEPERTI SILANGAN SKETSA-SKETSA LUKISAN YANG BELUM JADI. RUANGAN SEDERHANA DENGAN BAYANG-BAYANG SEDERHANA.

PEREMPUAN ITU, SEPERTI JUGA MALAM, TAMPAK RESAH. IA TAK SEPATAH PUN BICARA, TAPI IA TAK DIAM.

SEBUAH BUKU TEBAL, PERLAHAN DIBUKA LEMBAR DEMI LEMBAR. SUARA GESEKAN KERTAS, MENAMBAH TAJAMNYA SEPI. MULUT PEREMPUAN ITU BERKOMAT-KAMIT.
SEBATANG ROKOK, DINYALAKAN. ASAPNYA MENGELILINGI RUANGAN. TANGANNYA TERUS SAJA MEMBOLAK-BALIK BUKU, TERKADANG MENULIS, TERKADANG MENYANDAR DI KURSINYA, TERKADANG MENGHEMBUSKAN NAFAS PANJANG. DAN ROKOK TERUS MENYALA DI BIBIRNYA.

PEREMPUAN SEPERTI MULAI JENUH. BUKU DITUTUP DENGAN HENTAKAN KERAS.
SEBUAH SUARA TERBANGUN DARI RUANG YANG LAIN.

1. Lelaki : Lampu padam lagi?

Klik disiniuntuk download
Latar belakang
Ruang tidur yang sesak dan berantakan di lantai atas sebuah perumahan di belakang timur kota New York.Wall paper yang kotor dan terkupas dibeberapa bagian menampakkan plesteran dibawahnya. Tampak sebuah jendela yang terbuka, yang dibelakangnya terdapat tangga darurat dan botol kosong bekas susu. Disebelah kanan terdapat pintu keluar menuju koridor. Wastafel terletak disebelah kiri ruangan dengan mangkuk, serta beberapa perlengkapan tergeletak begitu saja diatasnya. Pada dinding sebelah atas sebuah cermin yang tergantung pada sebuah paku yang menonjol keluar. Di tengah ruangan berdiri meja reot dan sebuah kursi. Disudut kiri dekat jendela terdapat ranjang dan seorang anak balita yang tertidur dengan pulas. Sebuah lampu teplok gas didekat cermin merupakan satu-satunya alat penerangan di ruangan itu.

Klikdisni untuk download
( DONNA LAURA MASUK, BERPEGANGAN TANGAN PADA PETRA. TANGANNYA YAN LAIN MEMBAWA PAYUNG YANG JUGA UNTUK TONGKATNYA )

LAURA : Aku selalu merasa gembira sekali di sini. Syukur bangkuku tidak ditempati orang lain. Duhai, pagi yang cerah! Cerah sekali.

PETRA : Tapi matahari agak panas, Senora.

LAURA : Ya, kau masih duapuluh tahun (IA DUDUK DI BANGKU BELAKANG). Aku merasa lebih letih dari biasanya (MELIHAT PETRA YANG NAMPAK TAK SABAR), pergilah kalau kau ingin ngobrol dengan tukang kebunmu itu!

PETRA : Dia bukan tukang kebunku, Senora, dia tukang kebun taman ini!

Klik disini untuk download
( RUANG TAMU DI RUMAH RADEN RUKMANA KHOLIL)

RUKMANA : Eee ... ada orang rupanya. O ... Agus Tubagus, aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar dugaanku. Apa kabar? Baik ... ??
(MEREKA BERSALAMAN).

AGUS : Baik, baik, terima kasih, bagaimana dengan Bapak?

RUKMANA : Baik, baik. Terima kasih atas doamu, dan seterusnya ... duduklah. Memang tidak baik melupakan tetanggamu, Agus. Ooo, tetapi kenapa kau pakai pakaian resmi-resmian? Jas, sapu tangan dan seterusnya ... ... Kau hendak pergi kemana?

AGUS : Oh, tidak Aku hanya akan mengunjungi Pak Rukmana Kholil yang baik.

RUKMANA : Lalu mengapa pakai jas segala, seperti pada hari lebaran saja.

Klik disini untuk download.
ADEGAN I
Waktu dlayar dibuka, tampak Iyem sedang mengganti taplak meja dan membersihkan kursi-kursi tamu. Nyonya hamidah Mansyur masuk ke dalam ruangan dengan dandanan yang sangat menyolok, ada kesan dari dirinya menyombongkan kekayaannya. Dia menghias diri seperti toko yang berjalan.
Ny. Hamidah : Laki-laki kerjanya tak lain hanya melanggar janji. Katanya mau datang jam 8, sekarang sudah jam 8.30 belum juga datang ( menjenguk keluar jendela, tiba-tiba terlihat tampak pembentu yang sedang membersihkan kursi) Eeeee, sudah siang begini kamu baru bersih-bersih? Pelayan macam apa kau ini?
Iyem : (tergagap) Apa Nyonya sudah lupa, pagi tadi Nyonya telahmenyuruh saya ke rumah janda itu. Bagaimana saya bisa membersihkan rumah ini pagi-pagi.

Klik disini untuk download

Selasa, 26 April 2011

Setting
Malam purnama di sebuah pemakaman yang terkenal angker. Arga yang baru saja keluar dari penjara sedang mengupas masalalunya di tempat itu. Enambelas tahun silam, Lilin kekasihnya mati tertusuk belati Gaguk. Arga masih ingat betul kejadian malam itu.

[Gaguk dan Lilin jalan bergandengan]
Arga : Hei berhenti kalian!
Lilin : Mas Arga?!
Arga : Bangsat kamu Gaguk! [Arga dan Gaguk Berkelahi, Lilin tertusuk belati Gaguk, lantas Gaguk lari]
Arga : Enambelas tahun, seratus sembilanpuluh dua kali sudah aku tak menikmati purnama di sini. Iya di tempat yang sangat indah ini. Nampaknya tak banyak berubah, masih seperti yang dulu. [Sembari menyulut sebatang rokok] Aku masih ingat betul pohon itu, sehabis pulang berkencan, banyak pemuda, bapak-bapak, bahkan anak sekolahan yang kencing di sana. Aromanya masih seperti yang dulu, tak berubah. Aku heran, mereka begitu berani, padahal tempat ini tersohor angker. Bau pesing sering lebur dengan aroma melati atau kenanga. Dan bau amis darah malam itu pun masih aku cium malam ini. Lilin, pada malam itu....... ah, aku tak lagi tahu bagaimana dia. Yang aku tahu Lilin mati bukan ditanganku, hanya saja hukum tak berpihak padaku hingga aku berada di tempat yang pengap. Tempat orang bersalah. Dan bagaiermana pula keluarga ku sekarang, Lina yang bisu.... seperti apakah dia sekarang. Pastinya dia menjadi dewasa dan gemar sekali berdandan, sama seperti calon kakak iparnya yang senang sekali berkaca.
Llin : [Datang dari belakang] Sendirian Mas? Sedang menunggu seseorang ya?

Klik disini untuk download lebih lengkap

Minggu, 18 Juli 2010

Adegan 1

001. ORANG TUA : SIBUK MENYIAPKAN TIANG GANTUNGAN. Kau siap. Betapa megah. Hidupku seluruhnya kusiapkan untuk mencari jenis kayu termulia bagimu. Mencari jenis tali termulia. Enam puluh tahun lamanya aku mengelilingi bumi, pegunungan, lautan, padang pasir. Harapan nyaris tewas. Enam puluh tahun bernapas hanya untuk satu cita-cita. Akhirnya kau ketemu juga olehku. Kau kutemukan jauh di permukaan laut. Setangkai lumut berkawan sunyi yang riuh dengan sunyinya sendiri. Kau kutemui jauh tinggi. Sehelai jerami dihimpit salju ketinggian, yang bosan dengan putihnya dan tingginya. Kau siap! Kini kau bisa memulai faedahmu!

MASUK PEMUDA, BERTAMPANG LIAR, LETIH, DAN MENENTENG MITRALIUR. IA KAGET, MELIHAT TIANG GANTUNGAN DAN ORANG YANG BERDIRI TENANG DI SAMPINGNYA. IA MENODONGKAN MITRALIURNYA.

002. ORANG TUA : Tunggu! Jangan tergesa. Mari kita tentukan dulu tegak kita masing-masing. Agar jangan silap menafsirkan peran kita masing-masing. Yang mematikan atau yang dimatikan.

003. ANAK MUDA : Maksud Bapak?

004. ORANG TUA : Tingkah laku harus senantiasa sesuai dengan watak yang ingin digambarkan. IA BISA MENGAMBIL MITRALIUR DARI TANGAN ANAK MUDA. Sifat lahir harus sesuai dengan sifat rohani, agar … ANAK MUDA SADAR DAN MENDEPAK MITRALIUR. TERDENGAR SERENTETAN TEMBAKAN. … agar dicapai kesatuan waktu, kesatuan ruang, kesatuan laku.

005. ANAK MUDA : Bapak ingin bunuh saya?

006. ORANG TUA : Siapa hendak bunuh siapa?

007. ANAK MUDA : Bapak ingin bunuh saya.

008. ORANG TUA : Membunuh kau? Aku? Hendak bunuh kau?

009. ANAK MUDA : Ya, Bapak hendak bunuh saya!

010. ORANG TUA : Mengapa? Dengan alasan apa? Dengan tujuan apa aku harus membunuh kau?

011. ANAK MUDA : Jahanam! Alasan! Tujuan! IA MENYERGAP ORANG TUA ITU. ORANG TUA MENGELAK.

012. ORANG TUA : Tunggu dulu! Jangan tergesa. Tiap laku harus mentaati suatu gaya.

013. ANAK MUDA : Laku? Gaya? Persetan semuanya! Yang penting bagiku adalah kesudahan lakon. Berakhir! Alangkah bahagianya aku bila aku tahu, akulah pembuat keakhiran itu. LAGI IA MENYERGAP. ORANG TUA MENGELAK SIGAP.

014. ORANG TUA : Maksudmu?


Download naskah BULAN BUJUR SANGKAR karya IWAN SIMATUPANG

Karya Agus Noor
Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…
Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.
Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.
Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…
Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,
TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…
Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.