Sabtu, 04 September 2010

Salam budaya...!!!
Selamat datang keluarga baru...
Semakin lengkap tanggungjawab kami..Kini sudah datang para calon keluarga baru teater SS. Beberapa hari yang lalu,pamflet-pamflet informasi penerimaan anggota baru sudah disebar. Ditempel di segala penjuru UNNES. Malam itu, kami bergerilya menempelkan pamflet. Mulai dari papan pengumuman di rektorat, papan pengumuman di FMIPA,FBS,FT,FIK, pos satpam sampai rambu-rambu dilarang parkir..Semua ditempel!!

Nih langkah-langkah mendaftarnya:

1.Jadilah mahasiswa UNNES.Maksimal kini kamu duduk semester 13.

2.Didihkan minat besar dalam proses berkesenian

3.Tiriskan dengan datang ke sekretariat teater SS di lantai 2 gedungkomplek UKM.

4.Campurkan data kamu pada formulir pendaftaran plus 2 lembar foto gaul.

5.Taburkan uang pendaftaran sekecil Rp 10.000,00


Pendaftaran dibuka sampai tanggal 25 september 2010. Daftar aja ke gedung komplek UKM lantai 2, dekat auditorium. Pendaftaran buka 24 jam!

Bisa hubungi:

Zahra 085726057717

Re_Putra 085655652970

Sobami 085740046889


Mari bersama kita berproses untuk menjadi lebih baik...

Minggu, 18 Juli 2010

Adegan 1

001. ORANG TUA : SIBUK MENYIAPKAN TIANG GANTUNGAN. Kau siap. Betapa megah. Hidupku seluruhnya kusiapkan untuk mencari jenis kayu termulia bagimu. Mencari jenis tali termulia. Enam puluh tahun lamanya aku mengelilingi bumi, pegunungan, lautan, padang pasir. Harapan nyaris tewas. Enam puluh tahun bernapas hanya untuk satu cita-cita. Akhirnya kau ketemu juga olehku. Kau kutemukan jauh di permukaan laut. Setangkai lumut berkawan sunyi yang riuh dengan sunyinya sendiri. Kau kutemui jauh tinggi. Sehelai jerami dihimpit salju ketinggian, yang bosan dengan putihnya dan tingginya. Kau siap! Kini kau bisa memulai faedahmu!

MASUK PEMUDA, BERTAMPANG LIAR, LETIH, DAN MENENTENG MITRALIUR. IA KAGET, MELIHAT TIANG GANTUNGAN DAN ORANG YANG BERDIRI TENANG DI SAMPINGNYA. IA MENODONGKAN MITRALIURNYA.

002. ORANG TUA : Tunggu! Jangan tergesa. Mari kita tentukan dulu tegak kita masing-masing. Agar jangan silap menafsirkan peran kita masing-masing. Yang mematikan atau yang dimatikan.

003. ANAK MUDA : Maksud Bapak?

004. ORANG TUA : Tingkah laku harus senantiasa sesuai dengan watak yang ingin digambarkan. IA BISA MENGAMBIL MITRALIUR DARI TANGAN ANAK MUDA. Sifat lahir harus sesuai dengan sifat rohani, agar … ANAK MUDA SADAR DAN MENDEPAK MITRALIUR. TERDENGAR SERENTETAN TEMBAKAN. … agar dicapai kesatuan waktu, kesatuan ruang, kesatuan laku.

005. ANAK MUDA : Bapak ingin bunuh saya?

006. ORANG TUA : Siapa hendak bunuh siapa?

007. ANAK MUDA : Bapak ingin bunuh saya.

008. ORANG TUA : Membunuh kau? Aku? Hendak bunuh kau?

009. ANAK MUDA : Ya, Bapak hendak bunuh saya!

010. ORANG TUA : Mengapa? Dengan alasan apa? Dengan tujuan apa aku harus membunuh kau?

011. ANAK MUDA : Jahanam! Alasan! Tujuan! IA MENYERGAP ORANG TUA ITU. ORANG TUA MENGELAK.

012. ORANG TUA : Tunggu dulu! Jangan tergesa. Tiap laku harus mentaati suatu gaya.

013. ANAK MUDA : Laku? Gaya? Persetan semuanya! Yang penting bagiku adalah kesudahan lakon. Berakhir! Alangkah bahagianya aku bila aku tahu, akulah pembuat keakhiran itu. LAGI IA MENYERGAP. ORANG TUA MENGELAK SIGAP.

014. ORANG TUA : Maksudmu?


Download naskah BULAN BUJUR SANGKAR karya IWAN SIMATUPANG

Karya Agus Noor
Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…
Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.
Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.
Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…
Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,
TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…
Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.


Senin, 05 April 2010


31Maret 2010,malam yang cerah diterangi cahaya alam,bulatnya purnama malam itu,teater SS Universitas Negeri Semarang mengadakan pentas bulan purnama di komplek Joglo Fakultas Ekonomi .Kegiatan ini kemudian dimuat di Harian Suara Merdeka edisi03 April 2010.
Mimpi Papa-Mama di Kepala Anak

* Oleh Achiar M Permana

RIK tercenung. Permintaan, atau lebih tepatnya, perintah papa-mamanya seperti teror yang menusuki kepalanya. Bayangkan, kedua orang tuanya merecoki tidur malam Rik, dengan mimpi-mimpi mereka. Rik dipaksa untuk bermimpi seperti keinginan orang tuanya.

’’Kau harus bermimpi menjadi dokter, Rik. Sebab, dokter adalah pahlawan pada masa yang akan datang,’’ perintah sang papa.

’’Kau harus menjadi astronot. Astronotlah pahlawan yang sesungguhnya di masa depan,’’ tukas sang mama.

Begitulah, gambaran orang tua yang mendikte anak, bahkan hingga ke mimpi-mimpinya, dipanggungkan oleh Teater SS Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rabu (31/3) malam. Malam itu, lakon Mimpi-mimpi karya TB Kamaluddin tersebut dimainkan dua kali, di joglo kampus Sekaran, Gunungpati.
Lakon yang disutradarai Ratih Fajarwati itu dimainkan dalam rangkaian Pentas Bulan Purnama. Selain pementasan teater, perhelatan itu dimeriahkan pula dengan pembacaan puisi, musik, dan diskusi.

Di depan orang tuanya yang bersikeras memaksakan mimpi-mimpi mereka, Rik seperti menjadi boneka kaca yang tak berdaya. Rapuh dan gampang pecah. Seperti tak mau tahu, kedua orang tua itu terus saja meneror anaknya dengan mimpi mereka. ’’Tidak, Rik, kau harus bermimpi menjadi dokter, supaya bisa mengobati ketika ayahmu ini beranjak tua dan sakit-sakitan.’’
’’Tidak, Rik, tidak. Kau harus bermimpi menjadi astronot...’’
Ruang Permenungan Menonton kembali Mimpi-mimpi, bagi saya, seperti masuk dalam ruang permenungan. Kata kembali harus saya gunakan, mengingat sejak pertengahan 1990-an, entah sudah berapa kali lakon—yang dimainkan oleh kelompok teater berbeda—itu saya tonton. Sejak Teater 70 dari SMA 70 Jakarta memainkannya di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), pada 1996, lakon sarat pesan itu acapkali digarap oleh pelbagai kelompok teater di Semarang khususnya, dan Jawa Tengah umumnya.

Hebatnya, hampir satu setengah dekade berlalu, muatan di Mimpi-mimpi tetap saja terasa aktual. Setidaknya, lakon itu menjadi pengingat, betapa hingga kini masih banyak orang tua yang menjadi pendikte bagi kehidupan anak-anaknya.
Dan itu, membuat saya mengikhlaskan ’’kebocoran’’ yang bersifat teknis-teater, seperti akting yang flat, irama yang tak terjaga, atau setting, properti, ilustrasi, tata cahaya, dan ilustrasi musik yang nyaris tak tergarap.

Malam itu, persis pada malam Dies Natalis Ke-45 Unnes, para pegiat Teater SS yang sebagian di antaranya calon guru seperti tengah melakukan autokritik. Bahwa, mereka memiliki tanggung jawab untuk mengikis keberadaan para ’’teroris’’ berwajah papa-mama.